7 Pesan Moral untuk Orang Tua Millenial
Assalamu "alaikum wr. wb.
Sebagai seorang anak, sudah semestinya wajib berbakti, menaati, terus mendo’akan orang tuanya dari ia dilahirkan sampai kembali kepada Tuhan. Dari berbagai perbedaan kondisi di atas, kali ini saya ingin lebih fokus pada peran orang tua yang semestinya dilakukan terhadap anaknya baik mengenai pendidikannya, nasehat-nasehatnya, memberikan makna tentang tujuan hidup, dan fasilitas anak yang semestinya dapat dilakukan semampunya.
Seorang anak akan merekam berbagai hal yang dilaluinya, ada yang berpendapat bahwa seorang anak mulai merekam kondisi di sekitarnya sejak di dalam janin ibunya, ada yang berpendapat anak akan merekam kondisi sekitar setelah di lahirkan, dan ada yang berpendapat bahwa anak mampu merekam kondisi sekitarnya ketika melalui fase usia tertentu. Dalam hal ini, saya sependapat dengan semua pendapat yang tertera di atas. Namun, target saya pada artikel ini bahwa lebih saya tujukan kepada pendapat yang mengatakan bahwa anak akan mulai merekam kondisi sekitarnya pada usia Golden Age atau usia emas.
Istilah Golden Age atau usia emas ini saya temukan pertama kali pada sebuah buku yang membahas tentang Psikologi Perkembangan Anak. Usia Golden Age disebutkan bahwa usia ini masuk dari usia 0 tahun sampai usia 6 tahun. Pada usia ini, termasuk usia yang sangat rentan atau sangat sensitif pada anak dikarenakan daya rekam memori otaknya sangat stabil dan mudah untuk merekam berbagai perkataan, perbuatan yang dilihatnya, bahkan peristiwa sekalipun meski dalam usia ini seorang anak belum memahami apa yang dilaluinya.
Dalam artikel ini, saya bukan sedang menganggap orang tua tak punya peran penting, justru saya ingin mengutarakan 7 pandangan saya yang bisa jadi ada manfaatnya di suatu hari untuk anak-anak kita. Diantara pandangan saya tentang perlunya 7 Pesan #moral untuk Orang Tua Milenial, yaitu sebagai berikut:1. Berikan Dasar Keagamaan yang Kuat
Dasar Keagamaan adalah salah satu pendidikan dasar anak yang sangat penting bagi tumbuh kembangya seorang anak. Pendidikan dasar yang penting ini selain pendidikan sekolah formal dan non formal, pendidikan dasar agama juga begitu penting untuk pegangan anak di awal kehidupannya menuju dewasa. Karena dalam pengamatan saya selama ini di lingkungan hidup sekitar dan yang saya temui di berbagai daerah, ternyata memiliki dampak yang berbeda bagi seorang anak yang memiliki dasar agama yang kuat dan yang hanya sekedar tahu saja. Hal ini penting saya utarakan karena rasa kepedulian saya atas keprihatinan banyak orang tua yang mengeluhkan kondisi buruk dewasa kini yang salah satu faktornya adalah kurang pedulinya peran orang tua menanamkan pendidikan agama pada anak.
2. Perhatikan Cita-Cita Anak Sampai Terwujud
Sejak kecil, hampir setiap kita pada usia muda di bawah 5 sampai 10 tahun, seringkali menemui berbagai kesamaan yang sebenarnya perlu menjadi perhatian orang tua terhadap anak-anaknya. Terkadang, saya pun menemukan suatu kondisi bahwa beberapa orang tua berkata: “Kalau saya sebagai orang tua setiap detiknya hanya mengurusi anak saya, lalu siapa yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak saya?” Saya jawab, iya betul sekali memang sosok orang tua memiliki kewajiban dalam urusan pemenuh kebutuhan keluarga. Maksud saya, alangkah baiknya sempatkan atau luangkan waktu kita semisal sekali dalam sehari menanyakan kepada anak apa cita-citanya, apakah sudah memiliki pandangan hidup, lebih ingin berpendidikan tinggi atau ingin menjadi seorang pengusaha, bahkan hal sepele seperti menyapa dalam lelahnya orang tua banting tulang mencari ekonomi agar menyempatkan waktunya dan membicarakan berbagai hal yang menjadi keluhan atau masalah anak pada hari ini dan kapan perihal sekolah maupun fasilitas lain yang dibutuhkan.
Hal ini juga penting kita telisik bersama karena ada kecenderungan seorang anak ketika mulai usia dewasa belum menemukan apa pandangannya yang tidak diarahkan atau tidak menerima wawasan positif dari sosok orang tua.
3. Berikan Fasilitas Secukupnya atas Potensi Positif Anak
Fasilitas merupakan suatu pemenuhan atas suatu kebutuhan yang dijalankan pada seseorang dari orang yang berkewajiban memberikan fasilitas. Maksudnya, fasilitas itu perlu dimaksimalkan ketika dapat diusahakan demi keberlangsungan seorang anak dalam tumbuh kembangnya mencapai dewasa yang berguna.
Berbicara mengenai fasilitas, tentunya banyak yang beralasan bahwa itu terlalu meribetkan pihak orang tua. Namun, hal ini saya sampaikan untuk benar-benar mengerti dan mengenali apa fasilitas yang dibutuhkan oleh anak-anak kita. Misalnya, anak usia Sekolah Dasar fasilitas yang harus dimaksimalkan adalah rasa kegembirannya diberi uang saku yang cukup, akan tetapi diberikan nasehat atau tujuan sekolah adalah belajar mencari ridha Allah, mengetahui berbagai macam bidang ilmu, mendapat teman yang baik, dan berprestasi diimbangi berperilaku baik demi menemukan potensi positif untuk kedepannya. Mengapa demikian? Agar munculnya niat dan tekad yang kuat bahwa fasilitas yang orang tua berikan adalah untuk kemajuan prestasi anak. Dan jangan sekali-kali memberikan fasilitas yang belum masanya anak mengenalnya, seperti anak Sekolah dasar sudah berjam-jam diberi pegangan Gadget atau Handphone untuk bermain beberapa game berbahaya yang dapat merusak kesehatan maupun mentalnya.
4. Jangan Terlalu Membebaskan Anak dalam Urusan Pergaulan
Pergaulan adalah lingkungan sosial yang diperlukan untuk belajar bersosialisasi yang baik, kecakapan dalam berbicara, maupun berinteraksi dengan kalangan orang yang berbeda-beda latarbelakangnya. Memberikan kebebasan pada anak bukan berarti memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya dan bukan berarti juga tidak memberikan kebebasan anak yang justru dinilai dikekang atau dikurung oleh orang tuanya.
Hal ini memang perlu diutarakan agar makna pengawasan orang tua jangan sampai lengah dan memberikan informasi mengenai berbagai batasan yang perlu diketahui di berbagai lingkungan kehidupan. Memberi kebebasan tapi tidak sampai mengekang, agak sulit tapi perlu diterapkan demi mandirinya seorang anak agar mengerti betul mana yang haq dan mana yang bathil bagi dirinya sendiri maupun yang berdampak bagi orang lain.
Memanjakan anak dalam pemenuhan kebutuhannya, iya itu betul, akan tetapi tidak sampai memanjakannya dengan memenuhi segala keinginannya yang di luar nalar. Misalnya keinginan yang di luar nalar atau diluar aturan ialah memberikan anak sepeda motor yang dalam peraturan Lalu Lintas belum diizinkan. Hal sepele seperti ini jika dibiarkan, seorang anak akan merasa yang dilakukannya berkendara motor padahal usianya di bawah umur itu boleh dilakukan. Padahal, resiko besar yang akan didapatnya sangat berbahaya. Tanggung jawab orang tua adalah memenuhi kebutuhan dan keperluan dalam urusan pendidikan, akan tetapi tidak memanjakan dengan memberikan sesuatu yang berdampak bahaya bagi anak.
6. Maksimalkan Perhatian Orang Tua pada Harapan Baik Anak
Dalam berkeluarga perlu adanya diskusi. Diskusi yang diutamakan adalah antara anak dengan orang tua, anak dengan lingkungan teman sebaya, dan anak dengan lingkungan pendidikannya. Semua diskusi yang bisa jadi menjadi perhatian atau harapan positif anak akan muncul atau ada keinginan anak untuk memiliki pandangan hidup yang luas. Bisa jadi, hal ini dapat memunculkan rasa kreatifitas anak baik dalam berkarya maupun sekedar inspirasi belaka. Karena, inspirasi dari suatu diskusi yang menjadi daya tarik anak, harus didukung spenuhnya oleh orang tuanya.
7. Ketika Anak Salah, Berikan Solusi Tepat dan Arahan Kebaikan
Tidak sedikit diantara sekelompok keluarga yang saya temui bahwa orang tua sering menyalahkan anaknya ketika berbuat kesalahan yang tidak begitu fatal. Maksud saya, kesalahan disini adalah kesalahan anak yang tidak sampai melanggar aturan syariat agama dan aturan negara. Hal ini penting saya utarakan karena berbagai peristiwa atau kejadian yang berlangsung baik di masyarakat pedesaan maupun perkotaan kurang memperdulikan mental sang anak. Ketika anak melakukan kesalahan misalnya memecahkan gelas berisi minuman dan gelas jatuh pecah hingga airnya tumpah tanpa adanya unsur kesengajaan dari sang anak. Kemudian, orang tuanya memarahinya bahkan sampai memukulnya berkali-kali dengan beberapa perilaku kekerasan yang sebenarnya tidaklah pantas orang tua sampai berbuat demikian, karena bisa jadi ternyata yang dipermasalahkan termasuk jenis Masalah Tak Bersalah.
Beberapa diantaranya berdalih bahwa selaku orang tua harus memberi hukuman yang setimpal kepada anaknya. Akan tetapi, ketika memang itu murni kesalahan anak seharusnya orang tuanya justru memberikan alasan dan solusi terkait satu atau beberapa kesalahan anak tersebut. Solusi sederhananya misalkan saja, “Nak, lain kali harus lebih berhati-hati. Cara membawa gelas jika airnya panas dan tangan kamu tidak kuat menahannya, maka pakailah baki atau nampan agar gelas tidak goyang atau terjatuh seperti tadi. Kalau sekiranya baki atau nampannya licin, maka beri tatakan dengan sebujur kain agar gelas lebih merekat pada baki atau nampan tersebut sehingga tidak tergelincir jatuh ke lantai.” Dan berbagai contoh lain yang perlu kita utarakan dengan kalimat dan nada yang santun kepada anak. Karena, kerasnya seorang anak selain dari pergaulan di luar, bisa jadi anak melakukan kekerasan karena kita yang mendidiknya terlalu keras dan berlebihan. Terkait arahan kebaikan, dapat juga diawali dari 3 Kesederhanaan Bernilai Kebaikan.
Beruntunglah diantara kita yang dapat hidup memiliki kedua orang tua dan beruntunglah anak yang diberi kesempatan mendapat berbagai pendidikan orang tuanya yang tak pernah selesai hingga akhir masa. Dan jika diantara kita ada yang tidak berkesempatan bertemu orang tua sejak lahir atau kita belum sempat melihat anak yang dilahirkan lalu dipanggil oleh Sang Maha Kuasa, tetaplah terus bersyukur karena setiap manusia mendapatkan banyak anugerah dan nikmat oleh yang Maha Kuasa yang sering tidak kita sadari.
Itulah sekilas artikel saya kali ini, bila mendapati istilah atau dialektika bahasa yang tidak tercermin santun, semoga kesedian pembaca setia saya berkenan memberikan kritik, saran, dan masukan di kolom komentar di bawah ini demi menjadikan saya atau kita bersama menuju arah yang lebih baik lagi. Terima kasih atas luang waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat. Aamiin.
(Alif Setyo Nugroho)
Wassalamu 'alaikum wr. wb.
Komentar
Posting Komentar