Rumah yang Tak Berfungsi Sebagai Rumah

   Fakta kehidupan, tidak semua anak pulang dengan rasa tenang. Sebagian pulang dengan jantung berdebar. Sebagian pulang dengan rasa waspada. Sebagian bahkan berharap malam cepat berlalu agar esok ia bisa pergi lagi. Itulah kenyataan yang tidak banyak dibicarakan tentang broken home.

    Bukan sekadar perceraian. Bukan sekadar perpisahan. Melainkan rumah yang kehilangan fungsi utamanya yaitu merasa aman.

 Yang Paling Terluka Bukan Orang Tuanya. Ketika dua orang dewasa bertengkar, mereka mungkin merasa sedang mempertahankan harga diri. Namun, di sudut ruangan ada anak yang sedang kehilangan rasa percaya.

 Menurut teori kelekatan dalam perkembangan anak, hubungan awal dengan orang tua adalah fondasi cara anak memandang dunia. Jika fondasinya retak, maka bangunan kepribadiannya ikut goyah.

     Anak yang tumbuh dalam suasana penuh konflik akan belajar satu hal bahwa dunia tidak aman. Dan ketika dunia terasa tidak aman, ia akan memilih dua jalan dengan melawan atau menghilang.

Dampak yang Tidak Terdengar,

Tetapi Nyata

    Broken home tidak selalu melahirkan anak yang berteriak. Kadang ia melahirkan anak yang terlalu diam :

  1. Hatinya keras, tetapi rapuh. Ia terlihat kuat, padahal hanya tidak ingin terlihat lemah.
  2. Sulit percaya pada cinta. Ia takut dekat, tetapi juga takut sendiri.
  3. Mudah marah tanpa tahu akar marahnya. Emosi yang dipendam sejak kecil akhirnya mencari jalan keluar.
  4. Mencari pengakuan di tempat yang salah. Karena di rumah ia tidak pernah merasa cukup.

     Teori belajar sosial menjelaskan bahwa anak meniru apa yang ia lihat. Jika ia melihat kekerasan verbal, ia belajar bahwa menyakiti dengan kata adalah hal biasa. Jika ia melihat pengabaian, ia belajar bahwa perasaan tidak penting. Lalu ketika ia dewasa dan melakukan hal yang sama, orang-orang berkata, “Dasar anak broken home.”

    Ironis. Lukanya dibuat oleh orang dewasa, tetapi labelnya ditanggung oleh anak. Fakta yang menampar bahwa ternyata banyak anak broken home tidak menangis di depan umum. Mereka tertawa, bercanda, bahkan terlihat paling kuat. Namun, di malam hari, mereka overthinking.

   Mereka mempertanyakan nilai diri. Mereka bertanya dalam hati, “Apakah aku penyebab semua ini?”

   Dengarkan ini baik-baik bahwa kamu bukan penyebab pertengkaran orang tuamu. Kamu bukan alasan mereka gagal mempertahankan hubungan. Tetapi jika kamu terus menjadikan itu alasan untuk merusak hidupmu, maka di situlah kamu mulai bertanggung jawab atas kehancuranmu sendiri.

 Masa kecilmu mungkin bukan pilihanmu. Namun, kedewasaanmu adalah pilihanmu.

Contoh yang Terjadi Setiap Hari

    Di sekolah, ada siswa yang sering melawan guru. Semua menganggap ia tidak sopan. Tidak ada yang tahu bahwa di rumah ia tidak pernah didengar.

   Di lingkungan masyarakat, ada remaja yang memilih pergaulan bebas. Orang-orang mencibir. Tidak ada yang bertanya sejak kapan ia merasa sendirian.

    Di dunia kerja, ada orang dewasa yang takut berkomitmen dalam hubungan. Ia tidak sadar bahwa ketakutan itu berasal dari rumah yang dulu penuh ketidakpastian. Broken home tidak berhenti di masa kecil. Jika tidak disadari, ia terbawa sampai dewasa.

    Jika Kamu Tumbuh di Sana, Dengarkan Ini. Berhenti menjadikan luka sebagai identitas. Ya, kamu terluka. Ya, kamu mungkin kecewa. Ya, kamu mungkin marah. Tetapi kamu tidak berhak melukai orang lain hanya karena kamu pernah dilukai. Kamu tidak berhak merusak masa depanmu hanya karena masa lalumu retak. Yang perlu kamu lakukan diantaranya :

  1. Akui lukamu tanpa menyangkalnya.
  2. Berani bicara, bukan memendam.
  3. Cari lingkungan yang sehat, meskipun itu bukan keluargamu sendiri.
  4. Putuskan bahwa kamu akan menjadi versi yang lebih baik, bukan pengulang sejarah.

   Memutus rantai luka memang tidak mudah. Namun, membiarkannya berlanjut jauh lebih menyakitkan.

    Rumah yang retak memang meninggalkan gema yang panjang. Tetapi kamu bukan gema itu. Kamu adalah pribadi yang bisa memilih arah. Broken home bukan akhir cerita. Namun, jika kamu terus memeluk lukanya tanpa mau bangkit, ia bisa menjadi akhir yang kamu ciptakan sendiri.

    Ini bukan tulisan untuk menyalahkan. Ini tulisan untuk membangunkan. Karena kamu tidak diciptakan untuk menjadi korban selamanya. Kamu diciptakan untuk bangkit, meski dari rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

(Instagram : Alifnu9roho)

Komentar