3 Kesederhanaan Bernilai Kebaikan

3 Kesederhanaan Bernilai Kebaikan
Oleh: Alif Setyo Nugroho

     Banyak orang yang saya temui mempertanyakan baik kepada diri mereka sendiri maupun orang lain tentang perbuatan yang baik atau berbuat baik. Tak sedikit dari kebanyakan orang yang merasa dirinya kesulitan dalam mempraktikan diri dalam berbuat baik. Kehidupan di lingkungan sosial masyarakat sekalipun, tetap saja akan ditemui beberapa orang yang bingung bagaimana cara berbuat baik. Orang yang mengetahui dirinya mampu maupun kurang mampu dalam urusan ekonomi, tentunya pernah bahkan sering merasa tidak atau belum mampu berbuat kebaikan kepada orang lain, karena pepatah suci mengatakan “Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak bermanfaat bagi orang lain.”

     Berbuat kebaikan hukumnya adalah wajib bagi sesama manusia dalam bersosial dan berbagai macam urusan muamalah pada keseharianya, maupun terhadap makhluk hidup lainnya. Wajib disini bukan semata-mata hanya omong kosong ataupun kalimat santun secara turun temurun dari para leluhur (nenek moyang) kita, akan tetapi hal tersebut tak lepas dari berbagai aturan atau ketetapan Illahi yang sudah semestinya kita ketahui dan mematuhinya. Di sekeliling kita, kerap kali menemui hal yang senantiasa perlu kita lakukan, akan tetapi jarang yang dapat merasakan, bersimpati, atau dalam kata lain merasa peduli terhadap orang lain. Rasa peduli terhadap orang lain termasuk salah satu amalan atau perbuatan ringan untuk diterapkan di dalam hati hingga melakukan, namun masih saja ada yang menyepelekannya.

     Untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama manusia, tentu perlu latihan yang terus dilakukan sehingga menjadikan kebiasaan yang dapat diterapkan. Terbiasa dalam melakukan sesuatu, termasuk salah satu terobosan yang penting yang mudah dicerna untuk diterima oleh siapapun. Minimnya rasa kepedulian seseorang terhadap orang lain, tentunya akan memperburuk dalam keharmonisan baik dalam lingkup kekeluargaan, dalam bermasyarakat, maupun dalam proses berorganisasi. Seringnya melakukan interaksi terhadap individu lain secara langsung dan bertahap, akan melatih kita agar terarah kepada rasa kepedulian yang tinggi. Peduli juga pastinya memiliki berbagai batasan tertentu tanpa melakukan berbagai macam pelanggaran, baik pelanggaran norma, etika, ataupun mengarah kepada perbuatan kriminal. Beberapa batasan tersebut diantaranya yaitu:

1. Peduli terhadap kondisi orang lain baik yang membutuhkan ataupun yang membutuhkan peran kita, tanpa mengharap berbagai macam imbalan apapun.

2. Peduli yang muncul dapat diterapkan dengan santun, tanpa ada tujuan negatif atau mencari keuntungan lain yang dapat membahayakan bagi berbagai pihak atau orang lain.

3. Rasa peduli yang berlebihan, juga termasuk batasan yang harus tetap memegang kendali keimanan seseorang dalam praktik kepedulian yang dikarenakan tidak sampai mengorbankan berbagai macam yang kita miliki padahal saudara, kerabat, atau orang lain yang sedang membutuhkan hanya sekedarnya saja. Berlebihan dalam hal ini tanpa memperdulikan misalnya saja, ada seorang suami yang sedang bersyukur mendapat gaji senilai Rp.1.500.000. Kemudian di tengah jalan melihat seorang kakek penjual kue yang tua renta, lalu semua uang gajinya diberikan semuanya tanpa menyisakan satu rupiah pun untuk diberikan kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini termasuk salah satu kepedulian yang berlebihan, meskipun tidak seratus persen adalah perbuatan salah. Alangkah baiknya dengan membeli barang dagangannya sekedar saja, dengan menambah sedikit sebagai amal kebaikan.

     Dari berbagai hal ini lah, menjadi perhatian dari saya pribadi sehingga berkeinginan untuk sedikit mengulas beberapa hal yang dianggap sepele atau sederhana, akan tetapi bernilai kebaikan dan bahkan bisa dilakukan dengan beberapa cara yang baik pula. Beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam menegakkan kebaikan meski terlihat sederhana antara lain:

1. Senyum Ketika Bertemu dengan Orang Lain

     Tersenyum termasuk sebagai salah satu perintah Nabi Muhammad SAW, Nabi yang termasuk utusan untuk menyempurnakan akhlak di muka bumi ini hingga akhir zaman yang perlu terus kita teladani. Di samping itu, saat berkomunikasi kepada sesama manusia, ternyata dapat menyehatkan tubuh kita dan menjadikan kita awet muda seperti yang diunggah oleh CNN Indonesia tentang “Alasan di Balik Senyum Bisa Bikin Awet Muda” oleh Elise Dwi Ratnasari bahwa senyum dapat mengencangkan kulit wajah dan membuat awet muda. (Selasa, 08/05/2018).

2. Memanggil Orang Lain dengan Panggilan atau Nama yang Baik

     Memanggil saudara, teman, atau kepada siapapun dengan panggilan atau nama yang baik, juga termasuk perintah yang sering dilakukan dan pernah disampaikan oleh Nabi kita. Bahkan, memanggil orang lain dengan panggilan yang disukai oleh orang tersebut merupakan anjuran yang tentunya dapat kita lakukan dalam peran kita di dunia ini. Selain bernilai kebaikan meski sepintas terlihat sederhana, hal tersebut dapat membuat orang yang kita ajak berkomunikasi merasa bahagia dan dihargai. Jika kita sering melakukan hal demikian terkhusus kepada seseorang yang lebih tua dari kita, maka dapat tetap kokoh dalam bermuamalah dan mempererat tali silaturrahim kita atau sering disebut dengan istilah Ukhuwah Basyariyah. Bahkan jika suatu daerah, negara atau bangsa dapat bersama-sama saling menerapkan hal yang dikira sederhana ini, tentu dapat membantu meredam dari berbagai serangan orang-orang tak bertanggung jawab yang sering menyebut, memanggil, atau mengkampanyekan nama tokoh agama maupun tokoh masyarakat dengan sebutan yang tidak etis, tidak pantas, atau Saru (dalam Bahasa Jawa).

3. Berpakaian Sederhana yang Sopan

     Salah satu dari ribuan Pepatah Jawa yang pernah saya dengar, “Aji Ning Rogo, Soko Busono”, yang artinya bahwa salah satu yang turut menjaga harga diri kita akan terwakili dari pakaian yang kita pakai (perbuatan yang kita lakukan). Meski kita bukan sedang ingin dipuji orang, akan tetapi tak ada salahnya jika berpakaian sopan. Namun, sebelum membahas terkait berpakaian sederhana yang sopan, ingin saya sampaikan untuk beberapa sahabat yang ingin turut menjaga nama baik segala aspek kehidupan bahwa “Pakaianmu adalah Dakwahmu.” Kalimat singkat tersebut ternyata tak sedikit di sekeliling kita yang bergumam dan berkata bahwa “Berpakaian bebas dan terbuka itu tidak apa-apa asalkan tidak menyakiti orang lain.” Kalimat demikian merupakan pandangan atau tanggapan yang salah. Menurut saya, tidak menyakiti orang lain itu sangat baik, bukankah jika kita dukung dengan berpakaian sederhana yang sopan akan lebih mudah diterima dan diharapkan dapat diikuti oleh orang lain atau generasi millenial di era sekarang ini?

     Dengan kata lain, maka dengan adanya coretan artikel saya ini semoga dapat bermanfaat dan membantu jika ada diantara kita yang masih tidak memperdulikan cara dan berpakaian kita, karena berpakaian bebas atau terbuka dikhawatirkan membuat orang yang melihat berkeinginan atau terarah pada hal yang kurang beretika. Terkait berpakaian sederhana yang sopan tersebut, semoga dapat dipahami dengan kesediaan menerima dari hati yang lapang bahwa hal demikian dapat juga kita niatkan sebagai salah satu dakwah sederhana kita untuk diri kita sendiri maupun demi menyelamatkan jika munculnya potensi yang tidak baik bagi orang lain.

     Dari deretan kata di atas, saya berkesimpulan bahwa tidak ada salahnya jika sedikitnya tiga hal sederhana kita terapkan. Semoga bermanfaat bagi diri saya pribadi untuk lebih instropeksi diri maupun bagi para sahabat pembaca sekalian di manapun berada semoga selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Mohon maaf jikalau menemui penggunaan kata yang tidak mengenakan, tentu tiada niatan buruk dalam menyampaikan. (Wallahu a’alam).

     Kritik dan Saran yang Membangun, Silahkan Kesediannya Disampaikan pada Kolom Komentar di Bawah Ini. Terima Kasih. (Kamis,31/07/2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dampak Orang Tua Narsis terhadap Perkembangan Anak

Rumah yang Tak Berfungsi Sebagai Rumah

7 Pesan Moral untuk Orang Tua Millenial